OKU – Ada musim yang selalu dinanti sebagian warga Ogan Komering Ulu. Bukan musim panen, bukan pula musim libur panjang.
Musim itu datang ketika Sungai Ogan perlahan surut, memperlihatkan hamparan batu kali dan pasir yang selama berbulan-bulan tersembunyi di bawah aliran air.
Sungai Ogan, sungai terbesar yang membelah Bumi Sebimbing Sekundang, mengalir panjang dari kawasan Ulu Ogan hingga Lengkayap sebelum membentang di tengah Kota Baturaja.
Sejak dulu, sungai ini menjadi urat nadi kehidupan. Airnya memenuhi kebutuhan rumah tangga warga, menghidupi lahan pertanian, hingga menjadi sumber baku bagi Perumda Air Minum Tirta Raja.
Namun, ketika hujan berhenti turun dalam waktu cukup lama, wajah Sungai Ogan berubah.
Debit air menyusut. Arus yang biasanya deras menjadi tenang. Dasar sungai yang selama ini tersembunyi mulai muncul ke permukaan, membentuk hamparan pantai kecil berlantai batu kali yang seolah menghadirkan tempat wisata dadakan.
Di tempat itulah kehidupan mengambil bentuk yang berbeda.
Sejak pagi, beberapa warga tampak menunduk di tepian sungai sambil menggoyangkan dulang.
Mereka berharap butiran emas yang terbawa arus sejak bertahun-tahun lalu masih tersisa di sela-sela pasir dan bebatuan.
Aktivitas mendulang yang dahulu hanya dilakukan segelintir orang kini kembali ramai setiap kali sungai surut.
Tak jauh dari mereka, suara tawa anak-anak memecah keheningan. Sungai yang mengecil berubah menjadi kolam alami raksasa.
Anak-anak berenang tanpa beban, sementara orang dewasa duduk di bebatuan, merendam kaki, bercengkerama, atau sekadar menikmati semilir angin yang bertiup dari aliran Sungai Ogan.
Di tepian, aroma gorengan dan minuman dingin mengundang siapa saja yang lewat untuk berhenti sejenak.
Lapak-lapak jajanan sederhana bermunculan, memanfaatkan momen yang hanya datang sesekali.
Bagi pedagang kecil, surutnya sungai bukan sekadar perubahan alam, melainkan kesempatan menambah penghasilan.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Selama beberapa tahun terakhir, suasana serupa lebih dulu dikenal masyarakat di kawasan Jerambah Mandala, Kecamatan Peninjauan. Lokasi yang akrab disebut “Pantai Jerman” itu selalu dipadati warga ketika Sungai Ogan surut.
Kini, pemandangan yang sama juga menghiasi kawasan bawah Jembatan Ogan III, Kelurahan Baturaja Lama Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten OKU.
“Sore hari menjadi waktu paling ramai. Warga berbondong-bondong turun ke tepian sungai, ” ucap Ana salah satu warga Dusun Baturaja.
Sebagian datang membawa keluarga, sebagian lagi hanya ingin menikmati suasana yang berbeda dari hiruk-pikuk kota.
Sementara itu, para pengendara yang melintas di atas Jembatan Ogan III tak jarang memperlambat laju kendaraan.
Mata mereka tertuju ke bawah, menyaksikan sungai yang biasanya hanya menjadi jalur aliran air kini berubah menjadi ruang berkumpul masyarakat.
Begitulah Sungai Ogan mengajarkan bahwa alam selalu memiliki cara menghadirkan cerita. Ketika airnya melimpah, ia menjadi sumber kehidupan.
Ketika surut, ia justru menghadirkan ruang kebersamaan, tempat tawa anak-anak, harapan para pendulang, dan rezeki bagi pedagang kecil bertemu dalam satu hamparan yang sederhana, tetapi penuh makna.
sumber : okusatu.id
Leave a Reply