Barabai – Sultan Haji Pangeran Khairul Saleh Al-Mu’tashim Billah meresmikan Rumah Adat Banjar Tangga Karamat 159 yang kini juga difungsikan sebagai pusat pelayanan Pengobatan Alternatif Minyak Waras Borneo di Desa Birayang, Kecamatan Batang Alai Selatan (BAS), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel).
Acara khidmat ini turut dihadiri Wakil Bupati HST H. Gusti Rosyadi Elmi, Dandim 1002/HST Letkol Inf Ardiansyah Okta Putra Siregar, Tuan Guru Syekh Abdus Salam Al-Makkyy Al-Baniary, para alim ulama, habaib, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta para undangan lainnya.
“Bagi Kesultanan Banjar, sebuah rumah adat bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah lambang jati diri, tempat budaya dipelihara, dan nilai-nilai kemanusiaan diwariskan,” ujar Sultan Banjar di Barabai, Selasa.
Pangeran Khairul Saleh menegaskan bahwa keberadaan rumah adat Banjar ini memiliki makna mendalam yang melampaui arsitektur fisiknya, terlebih sebagai pusat pengabdian dan pengobatan alternatif sehingga memiliki nilai tambah yang sangat nyata bagi masyarakat sekitar.
Kesultanan Banjar juga memberikan apresiasi dan rasa hormat yang setinggi-tingginya kepada Sayyid Muhammad Ibrahim (Kai Ahim) bersama keluarga besarnya yang mengelola Rumah Adat Banjar ini sebagai pusat pelayanan Pengobatan Alternatif Minyak Waras Borneo.
Sultan juga mengutip hadits riwayat Ath-Thabrani, “Khairun-nsi anfa’uhum linns” yang menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
Sultan menilai tindakan Kai Ahim sebagai bentuk pengabdian nyata yang membuka harapan baru bagi masyarakat yang membutuhkan kesembuhan.
“Beliau (Kai Ahim) melihat tempat ini bukan sekadar wadah untuk berobat, melainkan sarana untuk menumbuhkan harapan, memperkuat semangat hidup, dan menghadirkan kepedulian sosial,” ujar mantan Bupati Banjar dua periode ini.
Meski demikian, Sultan mengingatkan agar masyarakat tetap berserah diri kepada Sang Pencipta dan seluruh upaya pengobatan merupakan ikhtiar manusia, sedangkan kesembuhan yang hakiki sepenuhnya datang dari Allah SWT, sesuai dengan Al-Qur’an Surah As-Syu’ara ayat 80.
Selain itu, momentum peresmian ini juga dimanfaatkan Sultan untuk menyuarakan pesan perdamaian dan persatuan di tanah Kalimantan.
Beliau menegaskan bahwa Banua Banjar merupakan rumah bersama bagi berbagai suku, termasuk Banjar dan Dayak, untuk hidup berdampingan secara harmonis sebagai anugerah Tuhan.
“Banjar dan Dayak bukanlah dua sejarah yang berjalan sendiri-sendiri. Kita adalah dua akar yang tumbuh pada tanah Kalimantan yang sama,” tegas Sultan yang juga anggota DPR RI.
Sultan Haji Pangeran Khairul Saleh mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memegang teguh semboyan luhur Kesultanan Banjar, yaitu “Baiman, Bauntung, Batuah”, menjadi masyarakat yang beriman, senantiasa memberikan manfaat bagi sesama, serta mampu membawa keberkahan bagi Banua.
Sementara itu, Sayyid Muhammad Ibrahim atau Kai Ahim berterima kasih kepada Sultan Banjar, Wakil Bupati HST, Dandim 1002/HST, Tuan Guru Syekh Abdus Salam Al-Makkyy Al-Baniary serta undangan lainnya yang telah hadir dalam peresmian ini.
Kai Ahim mengatakan, pengobatan alternatif tersebut dibuka untuk melestarikan budaya dan adat lokal, terutama minyak waras borneo.
“Bentuk tempat pengobatan pun sengaja kami bikin seperti rumah Banjar dan diberi nama Rumah Adat Banjar Tangga Karamat 159,” katanya.
Pihaknya dalam pengobatan menerima pasien semua penyakit, baik medis maupun non medis dengan niat menolong sesama secara tulus.
“Untuk masyarakat yang ingin berobat, kami selalu terbuka dan biaya tidak memberatkan, sukarela,” ujarnya.
Acara peresmian dirangkai dengan hiburan Musik Banjar, Kesenian Tradisional Banjar Main Kuntaw, Baledang, Tarian Adat Dayak oleh DPP Ragam Budaya Kalimantan, Sholawat bersama, hambur beras kuning, prosesi sakral dan rangkaian lainnya.
sumber : antarsumsel.com
Leave a Reply