Kamus Digital Bahasa Komering Diluncurkan, Langkah OKU Timur Selamatkan Bahasa Daerah

OKU TIMUR – Di balik kecanggihan teknologi yang merambah ke pelosok desa, sebuah inisiatif sederhana namun bermakna muncul dari Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan.

Pemerintah daerah merilis Kamus Digital Bahasa Komering, aplikasi berbasis ponsel yang dirancang untuk menyelamatkan bahasa ibu dari kepunahan.

Bagi sebagian orang, mungkin sebuah kamus digital hanyalah daftar kata biasa. Namun bagi masyarakat OKU Timur, aplikasi ini adalah langkah penting untuk mempertahankan warisan leluhur yang perlahan mulai dilupakan.

Bahasa Komering telah lama masuk ke kurikulum muatan lokal di sekolah dasar. Namun tantangannya besar—bahasa ini makin jarang terdengar dalam obrolan harian.

Karena itulah, hadirnya kamus digital menjadi angin segar. Aplikasi ini memungkinkan siapa saja mempelajari Bahasa Komering langsung dari genggaman tangan.

Aplikasi ini dilengkapi terjemahan kata dari Komering ke Bahasa Indonesia. Tak hanya itu, pengguna juga bisa menambahkan kosakata baru melalui fitur khusus yang disediakan.

Dengan begitu, masyarakat ikut berperan dalam memperkaya kamus secara kolektif.

“Setiap kata yang dimasukkan warga, akan kami verifikasi sebelum ditambahkan ke database,” jelas Himawan.

Tujuan dari aplikasi ini bukan semata-mata edukatif, tapi juga budaya. Di tengah arus globalisasi dan dominasi bahasa asing, menjaga agar bahasa daerah tetap hidup menjadi tantangan serius.

Pemerintah OKU Timur menjawabnya dengan pendekatan modern: membawa budaya lokal ke dalam platform digital.

Saat ini, kamus digital tersebut sudah memuat lebih dari 1.000 kosakata Bahasa Komering. Namun jumlah itu bukan angka final, sebab kamus ini dirancang untuk terus bertumbuh bersama pengguna.

Bahasa adalah jantung budaya. Ketika bahasa daerah menghilang, cara berpikir, nilai-nilai, hingga cerita rakyat pun ikut menghilang.

Menurut Himawan, upaya pelestarian ini tak hanya soal mempertahankan aksara atau kosakata, tetapi juga tentang merawat identitas kolektif masyarakat.

“Ini bukan sekadar proyek teknologi, ini tentang siapa kita,” tegasnya.

Langkah digitalisasi Bahasa Komering menunjukkan bahwa teknologi tak harus jadi ancaman bagi tradisi. Justru sebaliknya, teknologi bisa menjadi alat ampuh untuk memperkuat akar budaya, asal digunakan dengan niat dan cara yang tepat.

Kini, siapa saja – pelajar, guru, hingga warga biasa – bisa belajar dan ikut menjaga Bahasa Komering hanya dengan membuka aplikasi. Sebuah langkah kecil dari OKU Timur, tapi dengan dampak besar bagi masa depan budaya Indonesia.

sumber : okusatu.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*