Hari Ibu, WBP Lapas Singkawang basuh kaki ibu

Singkawang – Sebanyak 25 warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIB Singkawang mengikuti kegiatan membasuh kaki ibu masing-masing dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-97 Tahun 2025, Minggu.

“Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pembinaan kepribadian untuk menumbuhkan kesadaran moral dan nilai kekeluargaan para narapidana,” ujar Kepala Lapas Kelas IIB Singkawang, David Anderson Setiawan.

Dia mengatakan, kegiatan ini mengusung tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045” dan dimaknai sebagai momentum refleksi bagi WBP untuk menghargai peran ibu serta memperbaiki diri selama menjalani masa pidana.

“Kegiatan membasuh kaki ibu ini kami rancang sebagai sarana pembinaan mental dan emosional, agar warga binaan memperoleh ridho orang tua dan termotivasi menjalani pembinaan dengan sungguh-sungguh,” ujar David.

Menurut dia, pendekatan pembinaan berbasis nilai kekeluargaan dan spiritual dinilai efektif dalam membentuk kesadaran WBP untuk berubah ke arah yang lebih baik, sehingga siap kembali dan diterima di tengah masyarakat setelah bebas nanti.

“Harapannya, kegiatan ini menjadi titik balik bagi warga binaan untuk tidak mengulangi kesalahan dan mampu berperilaku lebih baik saat kembali ke lingkungan sosialnya,” kata David.

Selain kegiatan simbolis tersebut, Lapas Singkawang juga menyalurkan bantuan sosial kepada keluarga WBP yang hadir dalam kegiatan peringatan Hari Ibu. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap keluarga narapidana yang turut terdampak secara ekonomi.

“Kami melihat keluarga juga merasakan dampak ketika anggota keluarganya menjalani pidana. Karena itu, kami berupaya hadir melalui bantuan sosial yang dilakukan secara rutin, sesuai arahan pimpinan,” ujarnya.

Salah seorang orang tua WBP, Isna, mengaku terharu dan berterima kasih atas pelaksanaan kegiatan tersebut karena dapat mempererat kembali hubungan emosional antara anak dan orang tua.

“Hubungan anak dan orang tua tidak bisa dipisahkan. Saat kaki saya dibasuh, saya teringat ketika dulu merawat anak sejak kecil,” katanya.

Ia berharap anaknya dapat menjadikan momen tersebut sebagai pembelajaran untuk berubah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, serta mampu hidup lebih baik setelah bebas nanti.

“Saya berterima kasih kepada Lapas Singkawang yang telah membina anak-anak kami dengan kegiatan yang menyentuh hati,” ujar Isna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber : antarasumsel.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*