OKU – Siapa sangka wearpack operasional yang sudah tak terpakai bisa berubah menjadi sumber penghasilan baru. Di Desa Banu Ayu, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, delapan ibu rumah tangga membuktikan bahwa limbah tekstil masih memiliki nilai ekonomi jika diolah dengan kreativitas.
Bahan-bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah kini disulap menjadi berbagai produk seperti keset, celemek, bantal kursi, lap anti panas, tatakan wajan hingga bantal tidur.
Hasil karya tersebut tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu memberikan tambahan pendapatan bagi para anggotanya.
Kelompok Konveksi Bumi Ayu beranggotakan delapan ibu rumah tangga yang sebelumnya hanya menerima pesanan jahit dalam jumlah terbatas, bahkan sebagian belum memiliki pekerjaan tetap.
Melalui pendampingan yang diberikan Pertamina, mereka memperoleh pelatihan secara bertahap mulai dari teknik menjahit, pembuatan pola, desain produk, pengendalian kualitas, branding, pembukuan hingga pengelolaan usaha sederhana.
Bekal tersebut membuat kemampuan para anggota semakin berkembang. Kini mereka telah memproduksi sekitar 300 unit berbagai jenis produk yang dipasarkan melalui WhatsApp, promosi dari mulut ke mulut, hingga mengikuti bazar UMKM di Kabupaten OKU.
Produk yang paling banyak diminati konsumen antara lain keset, celemek, bantal kursi, dan lap anti panas karena dinilai fungsional, berkualitas, serta memiliki harga yang terjangkau.
Ketua Kelompok Konveksi Bumi Ayu, Evi Widia, mengaku program tersebut telah mengubah cara pandang para anggota terhadap barang bekas.
Melalui pendampingan yang diberikan Pertamina, mereka memperoleh pelatihan secara bertahap mulai dari teknik menjahit, pembuatan pola, desain produk, pengendalian kualitas, branding, pembukuan hingga pengelolaan usaha sederhana.
Bekal tersebut membuat kemampuan para anggota semakin berkembang. Kini mereka telah memproduksi sekitar 300 unit berbagai jenis produk yang dipasarkan melalui WhatsApp, promosi dari mulut ke mulut, hingga mengikuti bazar UMKM di Kabupaten OKU.
Produk yang paling banyak diminati konsumen antara lain keset, celemek, bantal kursi, dan lap anti panas karena dinilai fungsional, berkualitas, serta memiliki harga yang terjangkau.
Ketua Kelompok Konveksi Bumi Ayu, Evi Widia, mengaku program tersebut telah mengubah cara pandang para anggota terhadap barang bekas.
Menurutnya, dahulu wearpack bekas hanya dianggap sebagai limbah yang tidak memiliki manfaat. Namun setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan, mereka menyadari bahwa barang yang semula tidak bernilai ternyata dapat diolah menjadi produk yang diminati pasar sekaligus membantu meningkatkan pendapatan keluarga.
Dalam kurun waktu dua bulan terakhir, kelompok ini berhasil mengolah sekitar 30 kilogram limbah tekstil, terdiri dari sekitar 10,3 kilogram wearpack bekas serta 18 hingga 20 kilogram kain perca yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah.
Dari hasil penjualan produk tersebut, kelompok berhasil membukukan omzet lebih dari Rp10 juta, dengan rata-rata tambahan penghasilan setiap anggota mencapai sekitar Rp1,5 juta.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, mengatakan Program Gelora Banu Ayu menjadi contoh bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Ia menjelaskan, Pertamina ingin mendorong masyarakat agar melihat barang yang sudah tidak digunakan masih memiliki nilai jika diolah melalui kreativitas dan inovasi. Selain membuka peluang usaha bagi perempuan, program ini juga memperkuat penerapan ekonomi sirkular yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi timbulan limbah.
Program Gelora Banu Ayu merupakan bagian dari komitmen Pertamina Patra Niaga dalam menjalankan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Program tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 5 tentang Kesetaraan Gender, Tujuan 8 mengenai Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta Tujuan 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Melalui program ini, limbah tekstil yang sebelumnya berakhir menjadi sampah kini berubah menjadi produk bernilai jual, sekaligus membuka harapan baru bagi para ibu rumah tangga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui usaha yang berkelanjutan.
sumber : okusatu.id
Leave a Reply