BPBD catat 7.050 titik panas terdeteksi di Sumsel hingga Agustus 2026

Kepala BPBD Sumsel Muhammad Iqbal Alisyahbana di Palembang, Selasa, mengatakan berdasarkan pemantauan pada 11 Agustus 2026 terdapat 142 titik panas yang tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota di Sumsel, baik di wilayah lahan mineral maupun gambut.

“Ini yang perlu kita waspadai bersama. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September dan kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Ia menjelaskan jumlah titik panas relatif landai pada Januari hingga April, kemudian meningkat mulai Mei, Juni dan Juli. Khusus periode 1 hingga 10 Agustus 2026, tercatat sebanyak 2.145 titik panas.

Peningkatan titik panas tersebut turut diikuti kenaikan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada Juni tercatat 120 kejadian, kemudian meningkat menjadi 456 kejadian pada Juli. Sementara hingga Agustus telah tercatat 399 kejadian karhutla.

Secara kumulatif, BPBD Sumsel mencatat sebanyak 1.077 kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga Agustus 2026.

Hampir seluruh kabupaten/kota di Sumsel mengalami kejadian karhutla. Kejadian terbanyak tercatat di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir dan Muara Enim.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, luas lahan terbakar di Sumsel pada 2026 telah mencapai lebih dari 664,87 hektare. Namun, data tersebut masih berdasarkan penghitungan hingga Juni 2026 sehingga luasan lahan terbakar hingga Agustus belum tercatat secara resmi.

Hasil patroli udara di sejumlah wilayah juga menunjukkan kondisi lahan gambut, khususnya di OKI, mulai mengering. Kondisi tersebut meningkatkan potensi karhutla pada puncak musim kemarau.

“Wilayah-wilayah gambut sudah mulai mengering dan potensi kebakarannya akan semakin besar pada Agustus dan September. Karena itu, kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan dan pencegahan,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar peningkatan karhutla tidak sampai mengganggu kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia dan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

Menghadapi potensi peningkatan karhutla, sebanyak 11.567 personel gabungan disiagakan di seluruh wilayah Sumsel.

Personel tersebut terdiri atas BPBD provinsi dan kabupaten/kota, TNI, Polri, Lanud, Manggala Agni, Satpol PP, Polisi Kehutanan, kelompok tani, Masyarakat Peduli Api (MPA), Regu Pemadam Kebakaran (RPK) serta unsur perusahaan.

Penanganan karhutla juga diperkuat dengan dukungan armada udara dari pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Saat ini terdapat dua armada udara untuk patroli dan lima helikopter water bombing. BPBD Sumsel juga telah mengajukan penambahan armada water bombing seiring meningkatnya eskalasi karhutla.

“Pengajuan tersebut mendapat respons positif sehingga akan ada tambahan dua helikopter water bombing,” ujarnya.

Dengan tambahan tersebut, total armada udara yang disiapkan menjadi sembilan helikopter, terdiri atas tujuh helikopter water bombing dan dua armada untuk patroli serta operasi modifikasi cuaca (OMC).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber : antarasumsel.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


error: Content is protected !!