Gubernur Sumsel: Harga gabah di atas HPP menguntungkan petani

Palembang – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru menilai harga gabah petani yang berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) memberikan keuntungan bagi petani di tengah persaingan penyerapan gabah oleh pedagang dari luar daerah.

“Kalau dia di atas Rp6.500, artinya HPP kita Rp6.500, dan ada yang menawarkan lebih tinggi dari situ, tentu menguntungkan petani,” kata Gubernur Sumsel Herman Deru di Palembang, Rabu.

Menurutnya, kondisi yang perlu diwaspadai justru apabila gabah petani dibeli dengan harga di bawah HPP. Sedangkan, adanya pedagang yang menawarkan harga lebih tinggi menunjukkan terjadinya persaingan dalam penyerapan hasil panen.

Ia juga mempertanyakan pihak yang mengeluhkan masuknya pedagang dari luar daerah untuk membeli gabah petani Sumsel dengan harga lebih tinggi.

“Pertanyaannya, kenapa pembeli dari luar sanggup harga lebih tinggi? Apakah pembeli dari luar cukup dengan untung tipis, sementara kita mau untungnya besar?” jelasnya.

Persaingan harga tersebut merupakan bagian dari mekanisme pasar dalam penyerapan hasil panen petani. Namun, Deru tetap menekankan pentingnya peran Perum Bulog sebagai penyeimbang agar penyerapan gabah tetap berjalan dan harga di tingkat petani tetap wajar.

“Saran saya kepada Bulog, rendemen juga harus diperhatikan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti adanya perbedaan tingkat rendemen hasil penggilingan gabah di sejumlah wilayah Sumsel.

Berdasarkan pengecekan yang dilakukannya, rendemen penggilingan gabah Bulog pada salah satu Rice Milling Unit (RMU) di Palembang mencapai sekitar 51 persen. Sementara di wilayah lain di Sumsel, rendemen disebut hanya sekitar 48-49 persen.

“Kenapa di salah satu wilayah lain di Sumatera Selatan ini ada yang 49 persen, 48 atau 49 persen? Kok ada beda? Sementara padi kita kualitasnya sama,” katanya.

Maka dari itu, perbedaan rendemen tersebut perlu ditelusuri karena dapat memengaruhi nilai ekonomi hasil penggilingan gabah, karena persoalan tersebut dikomunikasikan dengan Bulog dan menyatakan siap menjadi saksi untuk memastikan adanya perbedaan rendemen tersebut dapat ditelusuri.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono mengatakan produksi beras Sumsel masih mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat meski sebagian gabah diserap pedagang dari luar daerah.

Untuk kebutuhan konsumsi beras masyarakat Sumsel yang berpenduduk hampir 9 juta jiwa mencapai sekitar 72 ribu ton per bulan atau sekitar 850 ribu ton per tahun. Sedangkan, produksi beras Sumsel pada tahun sebelumnya mencapai sekitar 2,1 juta ton sehingga Sumsel masih mengalami surplus produksi beras.

“Meski sebagian gabah diserap pedagang dari luar daerah, produksi Sumsel masih mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat,” katanya.

Salah satu daerah asal pedagang yang masuk ke Sumsel adalah Sumatera Barat. Pedagang dari daerah tersebut disebut masih mampu membeli gabah Sumsel dengan harga lebih tinggi karena memiliki pasar dengan harga beras yang juga lebih tinggi.

“Pedagang-pedagang dari luar Sumatera Selatan itu masih mampu membelinya karena mereka punya harga jual yang lebih tinggi,” ujarnya.

Saat ini, harga gabah di tingkat petani mencapai Rp7.500 hingga Rp7.700 per kilogram, atau berada di atas HPP gabah sebesar Rp6.500 per kilogram.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber : antarasumsel.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*