Semen Baturaja tanam pohon di area reklamasi

Baturaja – PT Semen Baturaja (SMBR) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan menanam pohon di area reklamasi IUP Operasi Batu Gamping sebagai upaya penghijauan pascatambang sekaligus memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2024.

Vice President of Mining & Waste Management Muhammad Beni di Baturaja, Kabupaten OKU, mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan guna memastikan bahwa lahan bekas tambang dapat direvitalisasi untuk keperluan lingkungan dan masyarakat sekitar.

Mengusung tema “Penyelesaian Krisis Iklim dengan Inovasi dan Prinsip Keadilan” kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap praktik penambangan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Adapun pohon yang ditanam antara lain jenis sengon, cemara, mangga, kelengkeng, dan pohon bunga atau hujan emas, serta santos temon.

Menurut dia, dalam kegiatan operasional penambangan, perusahaan plat merah tersebut telah menerapkan “Good Mining Practice” yang memprioritaskan aspek lingkungan. Salah satu wujud nyata dari komitmen ini adalah pemenuhan kewajiban reklamasi yang dilakukan secara berkala sejak tahun pertama penambangan hingga akhir.

Hingga saat ini, SMBR telah melakukan reklamasi dan revegetasi seluas 34,34 hektare di area tersebut dan sedikitnya terdapat 30 jenis tanaman dengan total sekitar 37.000 pohon yang telah ditanam seperti jenis kaliandra, cemara, flamboyan, durian, mangga, kelengkeng, rukam, nangka, trembesi, mahoni, matoa, dan sengon.

Beni menjelaskan, revegetasi lahan pascatambang merupakan upaya SMBR dalam memulihkan fungsi lahan dan meningkatkan kemanfaatannya secara berkelanjutan.

“Kegiatan penanaman pohon dan penghijauan ini adalah untuk memberikan dampak positif seperti penyerapan karbondioksida, pengurangan polusi, dan peningkatan keanekaragaman hayati di kawasan tersebut yang diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomis dan ekologis,” kata Beni.

Beberapa area reklamasi ini telah dinilai oleh Inspektur Tambang Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dengan nilai pencapaian keberhasilan rata-rata sebesar 90 persen.

Penilaian ini mencakup berbagai aspek, mulai dari proses penataan lahan hingga keberhasilan pertumbuhan tanaman.

Selain itu, dengan penerapan metode sistem silvikultur, pihaknya telah berhasil mengelola ekosistem di area lahan bekas tambang (quarry) menjadi habitat bagi koloni lebah trigona.

Lebah ini, kata dia, dikenal juga sebagai lebah kelulut yang berperan penting dalam proses penyerbukan tanaman menandakan keberhasilan ekosistem baru yang terbentuk di area tambang tersebut.

“Budidaya lebah trigona di Semen Baturaja menjadi salah satu indikator keberhasilan ekosistem baru yang ada di area tambang yang berperan dalam proses penyerbukan tanaman,” ungkapnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber : antarasumsel.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*