Produksi karet Sumsel terus menyusut dalam lima tahun sejak 2017

Palembang  – Produksi komoditas karet Sumatera Selatan terus menyusut dalam lima tahun terakhir sejak 2017 hingga 2021 karena dipengaruhi berkurangnya luas tanam dan menurunnya gairah petani untuk memanen lantaran harga jual yang rendah.

Berdasarkan data Direktorat Perkebunan Kementerian Pertanian, pada tahun 2017 produksi karet Sumsel mencapai 1,03 juta ton, tahun 2018 sebanyak 1,04 juta ton, 2019 mencapai 944,1 ribu ton, 2020 sebanyak 804,7 ribu ton dan 2021 mencapai 870 ribu ton.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru di Palembang, Selasa, mengatakan, kondisi ini seharusnya menjadi perhatian banyak pihak karena perkebunan karet di Sumsel ini menghidupi sekitar 600 ribu kepala keluarga.

“Perlu dipikirkan keberlanjutannya, karena komoditas karet ini unggulan Sumsel. Tentunya kita berharap tidak terganggu,” kata Herman Deru.

Menurutnya, penurunan produksi karet ini tak lepas dari bertahannya harga karet di level rendah dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagian petani enggan memanen getah, bahkan mengalihfungsikan menjadi lahan sawit yang dianggap lebih menguntungkan.

“Ini karena saat penanaman dulu jor-joran, sehingga over produksi. Karena kelebihan produksi membuat harga jatuh, apalagi harga karet tergantung dengan pasar internasional, hampir seluruhnya diekspor,” kata Herman Deru.

Untuk itu, ia mengharapkan adanya kebijakan khusus untuk sektor perkebunan karet seperti yang dilakukan di perkebunan sawit yang memiliki program peremajaan lahan.

Menurutnya, lahan karet di Sumsel sangat membutuhkan peremajaan karena sebagian sudah berusia di atas 25 tahun.

“Jika produktivitas meningkat, setidaknya ini dapat menambah keuntungan bagi petani,” kata Herman Deru.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo), produksi karet SIR 10 dan SIR 20 mengalami penurunan 8,06 persen (q-to-q) pada triwulan IV-2021 atau mengalami penurunan 23,73 persen (year on year).

Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mendata setidaknya 520.000 hektare dari total 1,3 juta hektare lahan karet di daerah itu perlu diremajakan karena tanamannya sudah berusia di atas 25 tahun.

Analis Prasarana dan Sarana Dinas Perkebunan Sumsel Rudi Arpiam mengatakan, tanaman karet itu produktivitasnya sudah menurun sehingga secara nilai ekonomis sudah tidak menguntungkan petani. Namun petani kini enggan meremajakannya karena harga karet stabil di kisaran rendah sejak dua tahun terakhir.

Harga karet di tingkat petani yang dijual melalui Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (bahan olahan karet) berkisar Rp12.000 per kilogram (kg) untuk masa pengeringan satu minggu atau KKK 60 persen.

Sementara jika menjual ke tengkulak, petani hanya mendapatkan harga berkisar Rp10.000-Rp8.000/kg.

“Jika mau diremajakan, petani setidaknya mengeluarkan Rp25 juta per hektare. Situasi saat ini tentunya berat bagi petani,” kata Rudi.

Penurunan produksi bahan olahan karet (bokar) ini telah berdampak pada pabrik pengolahan karet. Sejumlah pabrik karet di Sumsel terpaksa mengimpor dari negara tetangga seperti Vietnam dan Myanmar hingga negara dari Afrika sejak pertengahan tahun lalu.

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber : antarasumsel.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*