Lonjakan Covid-19 dan Kekhawatiran Kolapsnya Fasilitas Kesehatan

JAKARTA – Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan. Pasca-Lebaran, angka penambahan kasus terus melonjak naik.

Peningkatan kasus harian itu diduga karena meningkatnya mobilitas penduduk selama libur Idul Fitri dan meluasnya penyebaran varian baru virus corona.

Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, pada Sabtu (26/6/2021) terdapat penambahan pasien positif sebanyak 21.095 orang.

Angka ini merupakan rekor penambahan tertinggi terhitung sejak awal pandemi Covid-19 di Tanah Air. Sebelumnya, rekor penambahan kasus Covid-19 terjadi pada 24 Juni 2021, yakni 20.574 kasus dalam sehari.

Dengan penambahan tersebut, jumlah pasien Covid-19 di Indonesia kini mencapai 2.093.962 orang, terhitung sejak kasus pertama diumumkan 2 Maret tahun lalu.

Satgas melaporkan, kasus baru Covid-19 tersebar di 33 provinsi. Lima provinsi mengalami penambahan kasus yang tinggi.

Kelima provinsi itu, yakni DKI Jakarta (9.271 kasus baru), Jawa Barat (3.787 kasus baru), Jawa Tengah (2.305 kasus baru), Jawa Timur (989 kasus baru), DI Yogyakarta (782 kasus baru).

Dalam periode yang sama, pasien sembuh bertambah sebanyak 7.396 orang. Sehingga jumlah pasien sembuh kini berjumlah 1.842.457 orang.

Kemudian, jumlah pasien yang meninggal dunia akibat Covid-19 di Indonesia juga masih terus bertambah.

Pada periode 25-26 Juni tercatat ada penambahan pasien meninggal dunia 358 orang. Dengan demikian, total pasien meninggal dunia akibat Covid-19 kini ada 56.729 orang.

Pemerintah juga mencatat 129.071 orang suspek Covid-19 di Indonesia.

Adapun jumlah kasus aktif Covid-19 kini mencapai 194.776 orang. Kasus aktif adalah pasien yang sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit atau sedang menjalani isolasi mandiri.

Tak dapat dihindari, melonjaknya kasus Covid-19 berakibat pada peningkatan angka keterisian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) di rumah sakit rujukan Covid-19.

Satgas melaporkan, per 21 Juni 2021, sebanyak 5 dari 6 provinsi di Pulau Jawa mencatatkan BOR di atas 80 persen.

“Hanya provinsi Jawa Timur yang BOR-nya di bawah 80 persen, yaitu 66,67 persen,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam keterangan tertulis, Selasa (22/6/2021).

Untuk mencegah kolapsnya fasilitas kesehatan, Wiku menyebut, diperlukan manajemen distribusi pasien Covid-19 secara tepat. Distribusi pasien diatur berdasarkan tingkat gejala yang dirasakan.

Oleh karenanya, tidak semua pasien Covid-19 harus ke rumah sakit untuk mendapat penanganan lanjut.

Pasien dengan gejala berat dan sedang yang berhak didahulukan untuk mendapatkan penanganan, baik isolasi maupun perawatan intensif di rumah sakit,” kata Wiku, Kamis (24/6/2021).

Lebih lanjut, Wiku mengingatkan bahwa isolasi pasien Covid-19 harus dijalankan sesuai prosedur. Isolasi mestinya dilakukan terpusat di lokasi-lokasi yang layak.

Wiku mengaku paham bahwa kemampuan setiap daerah dalam menyediakan fasilitas isolasi pasien Covid-19 berbeda.

Oleh karenanya, pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 boleh berinisiatif melakukan isolasi mandiri baik di rumah, kos, hotel, atau apartemen.

“Pemerintah mendukung upaya ini dengan catatan masyarakat berkomitmen menjalankan prosedur isolasi mandiri dengan baik di bawah pengawasan puskesmas yang merupakan bagian dari posko,” ujarnya.

Wiku pun kembali menekankan bahwa isolasi mandiri berbeda dengan karantina mandiri. Karantina dilakukan oleh mereka yang sehat atau tidak memiliki gejala, namun punya riwayat kontak erat dengan pasien positif atau baru saja melakukan aktivitas yang berisiko tinggi terpapar virus.

Sementara, isolasi dilakukan oleh mereka yang sudah jelas menunjukkan gejala serupa Covid-19, maupun mereka yang terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan hasil diagnostik.

Bagi masyarakat yang memutuskan menjalani isolasi mandiri, kata Wiku, harus melakukan persiapan dan mengikuti prosedur sesuai dengan pedoman yang dianjurkan. Misalnya, istirahat cukup, mengonsumsi multivitamin, dan berolahraga.

Selain itu, untuk meminimalisasi penularan ke anggota keluarga lain, pastikan terdapat ruangan terpisah antara individu yang melakukan isolasi dengan penghuni lainnya.

“Penting juga segera menghubungi tenaga kesehatan jika terjadi gejala memburuk,” kata Wiku.

Wiku juga mengingatkan masyarakat untuk tidak panik atau buru-buru ke rumah sakit jika tes PCR menunjukkan hasil positif. Ia meminta agar upaya preventif melalui posko penanganan Covid-19 di tingkat desa dan kelurahan didahulukan.

“Bila rasio tenaga kesehatan untuk mengawasi jumlah masyarakat yang melakukan isolasi mandiri secara terpusat belum mencukupi, maka relawan kesehatan harus ditambah untuk memastikan pelayanan yang prima,” kata dia.

Selama pandemi berlangsung di Tanah Air, ratusan tenaga kesehatan juga ikut menjadi korban.

“Yang meninggal dari awal sampai 1 Juni 2021 itu dokter sebanyak 374 (orang),” kata Daeng dalam diskusi daring, Sabtu (26/6/2021).

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhillah menyebutkan, banyak perawat yang meninggal dunia akibat Covid-19.

Setidaknya, ia mendapat laporan ada 325 perawat yang meninggal selama masa pandemi Covid-19.

“Tepatnya 325. Jadi setelah di Wisma Atlet itu ada tiga lagi. Satu di Yogyakarta, satu Jakarta, satu Karawang. Mereka meninggal dan dinyatakan Covid,” ungkap Harif.

Harif menambahkan, dalam dua pekan terakhir banyak perawat yang terpapar Covid-19. Menurut dia, ada 324 perawat harus mendapat perawatan karena terinfeksi virus corona.

 

 

sumber ; Kompas.com

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*