Kabupaten OKU Terima Penghargaan Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting

Pada 15 Februari 2023 kemarin, Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menerima penghargaan dalam Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting, Tahun 2022.

Penghargaan ini diserahkan langsung Gubernur Sumsel H. Herman Deru kepada Pemkab OKU dan diterima Plt. Kadinkes OKU, Deddy Wijaya mewakili Pj. Bupati OKU, H. Teddy Meilwansyah.

“Alhamdulillah kita berhasil menerima, Pemberian penghargaan atas prestasi kabupaten/kota dalam penurunan prevalensi stunting tahun 2022,” kata Deddy, Selasa (21/2/2023) di rung kerjanya.

Pencegahan dan penanganan balita stunting perlu dilakukan dengan serius oleh semua pihak terkait. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten OKU bersama Lintas Sektor terkait dalam upaya penurunan prevalensi balita stunting.
Antara lain pemberian tablet Fe bagi remaja putri untuk mencegah anemia, pemeriksaan kehamilan sesuai standar 10 T dan pemenuhan gizi ibu hamil KEK, pemberian IMD pada bayi baru lahir, pemberian ASI eksklusif pada bayi usia kuang dari 6 bulan, pemberian imunisasi lengkap.

“Dan juga dilakukan pemantauan tumbuh kembang pada bayi dan balita, penerapan gaya hidup bersih dan sehat serta pemenuhan sarana sanitasi jamban dan air bersih,” katanya.

Deddy menambahkan, upaya yang telah dilakukan oleh Kabupaten OKU ini mendapat apresiasi dari Gubernur Sumatera Selatan pada Rapat Kerja Daerah (RAKERDA), Forum Koordinasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, Keluarga Berencana dan Percepatan Penurunan Stunting Provinsi Tahun 2023, Rabu 15 Februari 2023 di Hotel Novotel Palembang dengan memberikan penghargaan atas prestasi dalam penurunan prevalensi stunting tertinggi nomor 2 se- Sumatera Selatan.

Dalam kesempatan ini Gubernur Sumatera Selatan mengucapkan terima kasih atas semua dukungan LP/LS dalam penurunan prevalensi stunting dari 31,1% di tahun 2021 menjadi 19,9% pada tahun 2022 berdasarkan hasil Survei Status Gizi tahun 2022. Tentunya hasil ini patut disyukuri dan menjadi cambuk kita bersama dalam penurunan prevalensi stunting sebesar 14% pada tahun 2024 sesuai PP 72 tahun 2021.

Untuk diketahui dijelaskan tidak semua balita pendek itu stunting, tetapi anak yang stunting pasti pendek. Menurut WHO stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.

Tinggi badan dinyatakan pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang / tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi dikarenakan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang / kronis yang terjadi dalam 1000 HPK.

Balita yang mengalami stunting akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangannya, dimana anak akan mengalami gagal tumbuh (berat lahir rendah, kecil, pendek, kurus) serta hambatan perkembangan kognitif dan motorik. Selain itu juga dapat mengalami gangguan metabolik pada saat dewasa yang dapat menjadi faktor risiko terjadinya penyakit tidak menular (diabetes, obesitas, stroke, penyakit jantung, dan lain-lain). (sumber Dinkes OKU)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber : diskominfo.okukab.go.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*