Disdag Palembang: pasokan sapi terbatas pengaruhi harga daging segar

Sumatera Selatan  РPimpinan di Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Palembang, Sumatera Selatan menyatakan pasokan daging sapi yang terbatas telah mempengaruhi lonjakan harga komoditas tersebut di wilayah ini.

Kepala Disdag Palembang Remon Lauri di Palembang, Minggu, mengatakan tim pemantau di lapangan menemukan harga daging sapi, khususnya di pasar-pasar tradisional, melonjak dalam beberapa pekan terakhir ini.

Menurut dia, lonjakan harga tersebut terjadi karena pedagang terpaksa menaikkan harga jual mengingat jumlah sapi potong di tingkat pemasok saat ini dalam kondisi kurang.

“Benar, sebetulnya kondisi yang terjadi saat ini itulah disebut hukum ekonomi, di mana harga kebutuhan daging itu akan naik bila pasokannya kurang,” kata dia.

Oleh karena itu, pihaknya akan membahas kondisi tersebut bersama dinas ketahanan pangan dan instansi terkait lain untuk menemukan faktor utama penyebab kenaikan harga dan mencari solusi permasalahan.

Sebelumnya, pedagang daging sapi di pasar tradisional KM5 Palembang, Madon mengatakan harga jual daging sapi segar naik dari senilai Rp115.000-120.000 per kilogram menjadi senilai Rp150.000 per kilogram.

Lonjakan harga jual daging sapi itu dipengaruhi masih tingginya harga beli dari rumah jagalan di Palembang yakni sekitar 30 persen dari harga sebelumnya.

“Masih tinggi 30 persen, kata mereka (jagalan) karena stok sapi potong dari Lampung berkurang beberapa pekan ini, itu mungkin saja akibat adanya isu wabah PMK yang sudah banyak ditemukan di sana,” kata Madon.

Pria satu orang anak itu mengaku terpaksa tetap menjual daging sapi segar dengan harga tersebut, karena tidak ada pilihan lain untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Ia ditinggalkan pembeli langganannya yang memilih beralih ke daging sapi beku karena jauh lebih murah dengan harga senilai Rp68.000 per kilogramnya.

“Jadi biasanya 20 kilogram daging sapi segar saya ini dalam setengah hari sudah habis terjual, sekarang paling 5 kilogram saja sehari, bahkan, nyaris tidak ada sama sekali pembeli, kami merugi Rp3 jutaan per hari itu,” kata dia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber : antarasumsel.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*