Virus Corona dan Sikap Perilaku Masyarakat Indonesia

Jakarta : Agak sulit juga saat ini membedakan antara kesiapsiagaan, waspada dan kekhawatiran berlebih atas persebaran virus corona di tanah air. Ada satu sekolah di Jakarta misalnya, sudah meliburkan siswanya selama 14 hari, karena ada salah satu guru mereka yang menduga dirinya suspect virus corona dan dirawat di RSPI Sulianti Saroso.

Sebagai suatu langkah kehati-hatian perlu, akan tetapi jangan sampai berlebihan. Kata Walikota Jakarta Selatan, Marullah Matali, sekolah internasional tersebut libur sejak 3 Maret lalu.

Sementara itu, sejumlah warga masyarakat belakangan sudah tidak mau bersalaman lagi bila bertemu di ruang umum. Mereka merasa khawatir akan penularan virus corona melalui kontak langsung.

Namun, karena orang Indonesia kreatif, sejumlah orang setengah berkelakar memunculkan ide salam kaki. Namun yang begini harusnya tidak perlu dipopulerkan. Belakangan, muncul pula semangat meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi rimpang jahe, temulawak, kunyit, dan sejenisnya. Di Yogyakarta, istilahnya empon-empon. Ada juga yang kreatif menjual empon-empon corona. Namun sayangnya, kini harga sejumlah rimpang menjadi mahal.

Sejumlah inisiatif kebijakan dan kreatifitas masyarakat tentu sah saja bila tidak melanggar hukum, akan tetapi bagusnya, selain pemerintah menunjuk juru bicara kasus virus corona, juga perlu memfasilitasi pusat informasi virus corona yang secara waktu ke waktu memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang berbagai hal.

Hal ini menjadi penting agar masyarakat dan media massa memiliki acuan informasi yang jelas, dan tidak mencari sumber acuan informasi dengan caranya masing-masing. Kesannya seperti pemadam kebakaran, termasuk untuk memadamkan kabar hoaks yang muncul.

sumber : RRI.co.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*