Ternyata Begini Caranya Membuat Indonesia Paham Lockdown

Jakarta : Akibat wabah Corona Virus Disease 2019 atau disingkat COVID-19, pemerintah Tiongkok memberlakukan lockdown terhadap kota Wuhan di provinsi Hubei, sejak 23 Januari 2020 lalu. Keputusan itu diambil setelah virus Corona yang berasal dari kota tersebut ternyata menyebar hingga ke seluruh provinsi, kota, hingga distrik di negara tersebut.

Dalam lockdown itu, pemerintah Tiongkok tidak main-main, mereka menghentikan semua kegiatan bisnis di kota Wuhan, transportasi dilumpuhkan seketika alias tidak berfungsi sama sekali, pendidikan terhenti (tidak ada belajar di rumah dan lain sebagainya), tidak ada lagi penjual mie kuah di pinggir jalan setiap pagi untuk rakyat sarapan, maupun penjaja makanan kaki lima di sepanjang jalan saat malam hari.

Mall, kantor pemerintah, kantor swasta, apapun itu semua ditutup paksa oleh pemerintah. Setelah menutup semua itu, akses jalan masuk-keluar Wuhan baik darat, laut dan udara ditutup dengan ijin pembukaan akses satu pintu yakni dari pemerintah pusat. Masyarakat Wuhan diperintahkan tinggal di rumah saja, tidak sekolah, tidak bekerja, tidak bersosialisasi, karena pemerintah Tiongkok akan menangani penyebaran virus tersebut.

Sepekan setelah lockdown, pemerintah pusat menerjunkan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok ke Wuhan untuk menjaga kota tersebut, sekaligus menjadi penghantar makanan serta kebutuhan lain bagi masyarakat Wuhan. Buah-buahan dan bahan makanan dialirkan satu pintu untuk kemudian dibagikan secara merata kepada seluruh warga di kota itu. Hanya ada satu profesi yang masih bisa berkeliaran, yaitu jasa pengiriman online. Itu juga dibatasi hanya untuk keperluan kirim-antar bahan makanan orang Wuhan.

Sementara warga kota berdiam diri di dalam rumah, apartemen, atau asrama (bagi mahasiswa) masing-masing, militer Tiongkok melakukan penyemprotan disinfektan ke seluruh kota, dan Tim Kesehatan juga berkeliling melakukan pemeriksaan kepada setiap warga di sana apakah ada yang terjangkit atau tidak. Jika diperiksa suhu didapati tinggi (38 derajat ke atas), pastinya langsung diangkut ke rumah sakit untuk penanganan.

Semua pabrik, toko franschise kelas wahid seperti McDonald, tutup! Toko elektronik sampai retail produk ternama sekelas Apple tutup! Tidak ada negosiasi dalam lockdown.

Lockdown tersebut berlangsung lama dan tidak ada perlawanan, semua warga menuruti pemerintahnya, sampai akhirnya pada 20 Maret 2020, Wuhan sudah terbebas dari wabah Corona, dan baru-baru ini kegiatan ekonomi Wuhan dan seluruh kota di Tiongkok sudah kembali berjalan normal. Bahkan gantian, peralatan sampai tenaga medis dari Tiongkok dikirim oleh pemerintah sebagai bantuan bagi negara-negara yang tengah berjuang mengentaskan Coronavirus dari wilayah mereka masing-masing.

Indonesia Pintar Lockdown

Nun jauh dari Tiongkok, ada sebuah negara dengan rakyat yang menyebut diri bangsa Indonesia. Isinya adalah orang-orang yang tidak kalah cerdas dan tidak kalah modern dari bangsa Tiongkok. Namun ketika giliran terhantam wabah COVID-19, mendadak istilah lockdown ramai dan menjadi perbincangan hangat dari politisi sampai para pakar.

Mereka pun ramai-ramai meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) me-lockdown Indonesia saat menangani wabah Corona. Tapi muncul juga yang kontra dengan permintaan lockdown itu. Padahal sudah sama-sama bisa membaca di mbah google bahwa lockdown berarti ‘kuncian’. Panjangnya, mengunci semuanya, alias tidak ada pergerakan sama sekali, terkunci!

Tapi saat menangani Corona, di seluruh Indonesia ini, dari Pak RT, Ketua RW, Camat, Lurah, Wali Kota, Bupati, sampai Gubernur, ramai mengatakan ‘Kami lockdown’. Ditambah politisi juga ikut nimbrung, membuat semakin pekat saja arti lockdown itu. Padahal artinya hanya sederhana, dan prosesnya sudah dicontohkan oleh Tiongkok sampai Italia. Padahal, Presiden sendiri tak pernah bicara lockdown. Justru rakyatnya sendiri bicara kata ajaib itu sana-sini sampai ramai sekali.

Padahal, ketika muncul kebijakan Work From Home (WFH), Belajar di Rumah, atau di Rumah Aja, keadaan Indonesia masih saja seperti sebelumnya. Kegiatan masih jalan, kantor masih beroperasi, warga masih bisa kumpul-kumpul, bahkan sampai yang mau pesta saja masih ada yang mengadakan. Keadaan itu berlangsung sambil beredar istilah lockdown. Padahal kalau dibandingkan keadaan kota Wuhan, sebenarnya secara kasat mata saja sudah bisa dipahami arti kata lockdown itu.

Akhirnya, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) turun sendiri menggambarkan arti dan suasana yang terjadi jika memang lockdown. Jokowi menjelaskan dengan sabar, dalam lockdown, tidak ada satupun aktivitas warga untuk hal apapun. Transportasi tidak jalan, bisnis dilumpuhkan, tidak ada lagi tukang bakso atau tukang sate teriak-teriak tiap malam. Semua duduk manis mengunci diri di rumah saja. Semua kota menjadi mati, seolah tak berpenghuni.

“Lockdown itu apa sih? Karena itu harus sama. Lockdown itu orang nggak boleh ke luar rumah, transportasi semuanya berhenti. Baik itu namanya bus, kendaraan pribadi sepeda motor, kereta api, pesawat, semuanya berhenti semua. Kegiatan kantor-kantor semuanya dihentikan semuanya,” ujar Jokowi saat konferensi pers di Pulau Galang, Kepulauan Riau, Rabu (1/4/2020).

“Nah ini, kan kita tidak ambil jalan itu (lockdown). Kita tetap ada aktivitas ekonomi, tetapi semua masyarakat harus menjaga jarak. Jaga jarak aman paling penting, yang kita sampaikan sejak awal, social distancing, physical distancing, itu paling penting,” tegas Jokowi.

Pemerintah menurut Presiden telah memilih opsi lain yakni Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan kebijakan tersebut, aktivitas ekonomi tetap berjalan, namun masyarakat melakukan social distancing atau Phsycal distancing.

“Jadi kalau kita semuanya disiplin melakukan itu, jaga jarak aman, cuci tangan setiap habis kegiatan, jangan pegang hidung, mulut, mata, kurangi itu, kunci tangan kita , sehingga penularannya bisa dicegah,” tandas Kepala Negara.

Beberapa daerah ada yang mengambil keputusan dengan kata lockdown juga, hingga akhirnya masyarakat jadi ketakutan. Mungkin rakyatnya justru yang cerdas dan mengerti arti kata tersebut.

Akhirnya, Presiden Jokowi pun mengomentari keadaan itu. Menurutnya, pembatasan-pembatasan sosial yang dilakukan oleh pemerintah daerah masih dalam tahap wajar dan tidak bertentangan dengan pemerintah pusat. Hanya saja Presiden mengingatkan agar tidak melakukan karantina dalam cakupan wilayah yang luas atau menggunakan istilah lockdown atau karantina total.

“Saya kira saat ini belum ada yang berbeda, dan kita harap tidak ada yang berbeda, bahwa ada pembatasan sosial, pembatasan lalu lintas saya kira itu pembatasan batasan yang wajar, daerah ingin mengontrol wilayahnya,” kata Presiden usai meninjau RS Darurat di Pulau Galang, Kepulauan Riau, Rabu, (1/4/2020).

Apalagi menurut Presiden pemerintah daerah menggunakan istilah lockdown atau karantina total. Karena apabila lockdown, semua aktivitas, termasuk aktivitas ekonomi berhenti.

“Tapi sekali lagi tidak dalam bentuk keputusan besar misalnya karantina wilayah dalam cakupan yang gede, atau istilah yang sering dipakai lockdown. Lockdown itu apa sih, karena harus sama. Lock-Down itu orang tidak boleh keluar rumah, transportasi berhenti, baik itu bus kendaraan pribadi, sepeda motor , kereta api, pesawat. Kegiatan kantor semuanya dihentikan. Kan kita tidak mengambil jalan yang itu,” terang Jokowi.

Dirinya juga mengatakan saat ini koordinasi antara pusat dan daerah masih sejalan. Dia menilai pembatasan-pembatasan sosial yang sempat dilakukan beberapa daerah adalah kebijakan normal.

“Saya kira sampai saat ini belum ada yang beda, dan kita harapkan tidak ada yang beda. Bahwa ada pembatasan sosial, ada pembatasan lalu lintas. Saya kira itu pembatasan-pembatasan yang wajar, bahwa daerah ingin kontrol daerahnya masing-masing. Tapi sekali lagi, tidak dalam bentuk keputusan besar, misalnya karantina wilayah dalam cakupan yang gede atau yang sering dipakai, lockdown,” tandas Kepala Negara.

Sebagai informasi, Pemerintah baru saja mengumumkan data terbaru penanganan wabah Corona di Indonesia secara keseluruhan. Ada kenaikan jumlah pasien kasus positif virus Corona yang meninggal dunia di wilayah Indonesia.

“Pasien meninggal dunia bertambah 21 jiwa. Menjadi 157 orang,” kata juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, melalui konferensi pers yang disiarkan BNPB, Rabu (1/4/2020).

Sementara itu, pasien yang sembuh bertambah 22 orang, hingga totalnya menjadi 103 orang.

Dan hingga hari ini, tercatat ada 1.677 kasus positif Corona di Indonesia. Jumlah tersebut bertambah 149 kasus dari angka sebelumnya.

 

sumber : RRI.co.id

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*