Ladya Cheryl Kembali ke Dunia Film, Vakum 8 Tahun dan Diselimuti Keraguan

JAKARTA – Aktris Ladya Cheryl akhirnya kembali bermain film setelah delapan tahun absen berakting di layar lebar. Wanita kelahiran Jakarta, 11 April 1981, ini terakhir kali bermain dalam film Postcard from The Zoo (2012) besutan sutradara Edwin.

1. Kembali lewat film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas Aktris Ladya Cheryl kembali lagi dengan proyek layar lebar terbaru berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Film tersebut digarap oleh sutradara Edwin. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas diadaptasi dari novel berjudul sama karya Eka Kurniawan. Dalam film ini, Ladya berperan sebagai Iteung, seorang petarung yang penuh dengan trauma di masa lalu.

Tanpa Ladya Cheryl? Ladya sendiri mengaku sudah sangat yakin untuk kembali terjun ke dunia layar lebar setelah beberapa tahun absen.

“Karena sudah ada baju (film), sudah ada hari ini, jadi enggak bisa mundur karena sudah ada kontrak. Kalau akting untuk film ini ya,” ucap Ladya dalam jumpa pers di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (18/2/2020).

Film ini sendiri direncanakan syuting pada akhir 2020 dan dijadwalkan tayang pada 2021.

3. Sempat diselimuti keraguan Ladya Cheryl menambahkan, ia sempat merasa ragu ketika memutuskan untuk bermain film kembali.

“Sebenarnya gue juga masih ragu, gue juga tahu film ini kan sudah dibuat setahun yang lalu, tapi akhirnya dapat teks (pesan) dari mereka (tawaran main film),” ucap Ladya.

Untuk meyakinkan dirinya yang masih ragu, Ladya pun coba untuk mempelajari segala macam hal tentang film yang ditawarkan kepadanya. Termasuk, kata Ladya, membaca novel karangan Eka Kurniawan yang menjadi adaptasi film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

4. Gunakan kamera analog Hal menarik dalam rencana proses produksi Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, Ladya Cheryl bakal berakting disorot kamera analog dengan film celluloid 16mm, bukan digital.

Menurut Edwin sang sutradara, penggunaan kamera analog bukan lantaran ingin bernostalgia dengan era 1980-an sampai 1990-an, melainkan lebih dari itu.

“Medium ini sebenarnya biasa kita pakai di 8-10 tahun yang lalu, semua pakai analog tiba-tiba ke digital dan mematikan mesin ini,” ujar Edwin dalam jumpa pers di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (18/2/2020). Edwin mengaku, ingin medium ini menjadi sebuah pembelajaran bagi para kru yang terlibat.

“Ini medium tempat kita belajar yang harusnya juga jadi pilihan kita. Di sini saya senang sekali dan beruntung karena didukung,” katanya lagi.

Karena penggunaan kamera analog ini pula, kata Dede selaku produser, yang membuat film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas baru bisa tayang pada 2021.

Salah satu kendalanya, kata Dede, lantaran fasilitas penunjang untuk kamera analog sudah tak seperti dulu lagi.

Sumber : Kompas.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*