Kisah Pasutri Anaknya Kena Corona di Baturaja Begitu Menyayat Hati, Tiap Jelang Magrib Aminar Gemetaran Hingga Suaminya Dilarang Mangkal Ngojek Bentor

Beritatotal.com – Virus corona menyerang siapa saja tanpa pandang status sosial, gender, dan usia.

Di masyarakat, virus ini sangat jahat dan tak jarang si penderita atau pun keluarganya akan diperlakukan bak penderita penyakit paling menakutkan di dunia.

Maka seringlah terjadi keluarga si penderita dijauhi oknum-oknum masyarakat “pendek akal”.

Meski ada juga keluarga penderita covid-19 mendapat perlakuan biasa saja sama seperti hari-hari sebelum ada keluarga di serang corona.

Seperti yang dialami pasangan suami isteri (pasutri) orang tua pasien corona Kasus 10 OKU berinisial D.

Pasutri tersebut Supriadi (50) dan Aminar (45) yang tinggal mengontrak di sebuah bedeng di RT 6, Kelurahan Sukaraya, Kecamatan Baturaja Timur.

Sekitar 16 hari lalu anak mereka D dinyatakan positif terpapar covid-19 dan sampai saat ini sedang menjalani isolasi di Hotel Baturaja, yang merupakan Rumah Sakit Darurat Covid-19 OKU.

“Anak saya merupakan pasien 10 dan sudah `16 hari dirawat di Hotel Baturaja. Kami sudah lama tidak bertemu karena dia tinggal di rumahnya sendiri,” Aminar langsung berkaca-kaca memulai kisah musibah keluarganya kepada Beritatotal.com.

Dikatakan, tadinya dia merasa sangat sedih tapi lama kelamaan karena semua tetangganya peduli kepada mereka membuat suasana bathin dan perasaannya berangsur bangkit. Tdak dirundung kesedihan berkepanjangan lagi.

Pasutri ini termasuk beruntung karena tetangganya tidak menjauhi mereka. Malah baik dan mendukung mereka terutama Ketua RT disini yang selalu menyemangati.

Itulah yang kemudian menjadi kekuatan mereka sekeluarga menjalani hari-hari menyulitkan sebagai keluarga dan orangtua pasien terpapar covid-19.

Tak dipungkirinya, begitu berat beban pikiran dan perasaan dia. Dari hari pertama mengetahui anaknya positif covid-19, kesehatan Aminar langsung “terjun bebas” alias drop.

Setiap hari dia selalu merasa lemah, mering dan tak semangat. Pikirannya melayang tak karuan lagi.

Terutama jika menjelang magrib, Aminar selalu merasa tubuhnya gemetaran dan susah tidur malam.

“Baru dua hari ini badan saya merasa enak. Biasanya kalau mau magrib pasti gemetaran dan tidak mau tidur. Saya sudah berobat kemana-mana tapi tidak ada perubahan,” imbuhnya.

Diakuinya kebaikan tetangga dan sering mendapat support dari Ketua RT 06 Kelurahan Sukaraya, menjadi obat mujarab dia sekarang semangat lagi menjalani hari-hari.

“Pak RT sering ke rumah sini memberi semangat kepada kami. Jadi kami tidak merasa seperti dikucilkan atau dijauhkan tetangga,” tuturnya.

Bukan saja merupakan orangtua kandung Pasien 10 Corona OKU, Supriadi – Aminar juga termasuk keluarga yang hidupnya pas-pasan. Sehari-hari Supriadi mencari rezeki sebagai penari becak motor (bentor).

Karena dinilai menjadi keluarga yang terdampak langsung krisis corona, maka pengurus Masjid Ash-Sholihin Sukaraya pun turut prihatin dan membantu keluarga ini dengan memberinya sembako.

Aminar sangat bersyukur mendapat bantuan sembako dari pengurus Masjid Ash-Sholihin Sukaraya.

Sembako tersebut tentu saja bisa mereka manfaatkan ditengah krisis ekonomi lantaran suaminya sekarang sudah jarang menarik bentor.

Aminar pun berharap wabah ini cepat berlalu dan masyarakat terutama keluarganya bisa kembali beraktifitas seperti biasa.

Karena serangan virus corona ini bukan saja menjangkiti tubuh anak pertamanya D yang bekerja di koperasi.

Tapi imbasnya ke suaminya yang sehari-hari hanya mencari sesuap nasi sebagai penarik bentor. Beda tetangga mereka yang memperlakukan baik, beda dengan teman-teman suaminya sesama penarik bentor.

Sejak heboh anak mereka dinyatakan positif terpapar virus corona, Supriadi sudah jarang menarik bentor.

Lantaran teman-teman seprofesinya tempat mangkal meminta dia untuk menjauh dulu tidak ikut mangkal.

Sejak saat itulah bentornya lebih sering terparkir di rumah. Sedangkan mereka hanya tinggal di kontrakan yang harus dibayar tagihannya termasuk tagihan listrik dan PDAM.

Kalau pun keluar narik bentor, menurut Supriadi dia tidak lagi mangkal di tempat selama ini bersama kawan-kawannya yang lain. Melainkan dari rumah langsung berkeliling mencari penumpang.

Tapi corona yang sudah menimbulkan krisis ekonomi rakyat kecil ini pun membuat upayanya menarik bentor dengan cara keliling tak begitu menggembirakan. Sudah susah payah mengumpulkan berkeliling untuk mengumpulkan rupiah tapi hasilnya tak sebanding. Bahkan sering nihil pemasukan.

“Kalau keluar juga penumpang  sepi meski sudah keliling-keliling. Jadi sekarang bentornya lebih banyak diparkir di rumah,” keluh Supriadi.

Sementara itu, Ketua RT 06 Kelurahan Sukaraya, Noven (40), membenarkan salah satu pasien covid-19 yang dirawat di Hotel Baturaja orang tuanya merupakan warga dia.

Menurut Noven, pasien 10 alias D sudah lama tidak main ke rumah orangtuanya ini karena sudah memiliki rumah sendiri di kawasan Kelurahan Sekarjaya.

“Jadi sebelum wabah corona ini ramai, anaknya memang sudah tidak tinggal bersama orangtua. Dia punya rumah sendiri dan sudah lama tidak main di rumah orangtuanya ini,” jelas Noven.

Makanya selaku Ketua RT setempat Noven pun tak hentin-hentinya memberi semangat Supriadi dan Aminar.

Karena Noven sangat yakin kedua orangtua ini bersih dari paparan virus corona karena sudah lama tidak bertemu anaknya sebelum terpapar corona.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*